Pengantar Asbabun-Nuzul

PENGANTAR KAJIAN “ASBABUN-NUZUL”

PROLOG

Al-Qura’an adalah firman Allah SWT yang bersifat qodim dan azali, lafadz serta maknanya diturunkan kepada nabi Muhammad saw, dan membacanya dinilai sebagai ibadah.

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat islam mempunyai karakteristik tersendiri. Diantaranya, Al-Qur’an tidak diturunkan secara global melainkan bertahap pada masa risalah kenabian.

Penurunan Al-Qur’an secara bertahap ini mempunyai hikmah, yaitu supaya mudah dibaca, dihafal, difaham dan diamalkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an surat Al-Isro’ ayat 106:

وقرآنا فرقناه لتقرأه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا

Artinya: “dan Al-Qur’an (kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap”.

Karakteristik yang lain adalah bahwa sebagian ayat Al-Qur’an diturunkan sebagai jawaban dari suatu kejadian, tetapi bukan berarti bahwa setiap ayat Al-Qur’an mempunyai sebab diturunkannya, karena ada sebagian ayat Al-Qur’an diturunkan sebagai permulaan (Arab: ابتداء) tanpa sebab.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai sebab itulah yang menjadi obyek kajian “Asbabun-Nuzul” atau sebab-sebab diturunkannya Al-Qur’an.

DEFINISI ASBABUN-NUZUL

Asbabun-Nuzul secara bahasa adalah gabungan dua kata, yaitu asbab (arab: أسباب) dan kata An-Nuzul (arab: النزول). Asbab artinya sebab dan An-Nuzul artinya penurunan.

“Asbabun-Nuzul” atau sebab-sebab diturunkannya Al-Qur’an adalah “sesuatu – baik berupa kejadian atau pertanyan yang diajukan kepada Nabi Muhammad saw – yang di mana ayat Al-Qur’an diturunkan berkaitan dengan sesuatu tersebut pada waktu terjadinya, baik sebagai penjelasan hokum bagi sesuatu tersebut apabila berupa kejadian, atau sebagai jawaban bagi sesuatu tersebut apabila berupa pertanyaan”.

Dari definisi di atas dapat kita simpulkan beberapa hal, diantaranya:

1- “Asbabun-Nuzul” – baik berupa kejadian atau pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad saw – disyaratkan harus semasa dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan sebab tersebut. Artinya sebab tersebut harus terjadi pada masa nabi Muhammad saw, baik ayat tersebut turun langsung setelah sebab tersebut ataupun turunnya agak lama dari sebab tersebut karena hikmah tertentu selagi sebab tersebut terjadi pada masa risalah kenabian nabi Muhammad saw.

Oleh karena itu, kejadian-kejadian masa lalu sebelum masa nabi Muhammad saw tidak dinamakan Asbabun-Nuzul, dan memasukkannya sebagai bagian dari Asbabun-Nuzul dianggap berlebihan oleh para ‘ulama seperti Imam As-Suyuthiy.

2- Asbabun-Nuzul berupa salah satu dari dua hal berikut: A- berupa kejadian pada masa nabi Muhammad saw dan Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelasan hokum kejadian tersebut. B- berupa pertanyaan yang diajukan kepada nabi Muhammad saw tentang suatu permasalahan kemudian ayat Al-Qur’an diturunkan sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut.

BUKU-BUKU TERMASYHUR YANG MEMBAHAS “ASBABUN-NUZUL”

Walaupun “Asbabun-Nuzul” termasuk dalam bahasan Studi Al-Qur’an (arab: علوم القرآن), tetapi para ‘Ulama banyak yang menulis tentang “Asbabun-Nuzul” dalam satu kitab tersendiri karena dianggap sangat perlu. Diantara buku-buku tersebut adalah:

1- bukunya ‘Ali Al-Madani (W 234 H). tetapi bukunya sekarang tidak diketahui keberadaannya, Cuma diisyaratkan oleh Imam As-Suyuthiy dalam kitab/ bukunya Al-Itqon Fi ‘Ulumil-Qur’an.

2- Asbabun-Nuzul karya Imam Abul-Hasan ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad Al-Wahidiy An-Naisaburiy (W 478 H).

3- Asbabun-Nuzul karya Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (W 852 H). akan tetapi beliau belum sempat merampungkannya.

4- Lubabun-Nuqul Fi Asbabin-Nuzul karya Imam Jalaluddin ‘Abdurrahman As-Suyuthiy (W 911 H). kitab ini bisa dikatakan kitab termasyhur dalam disiplin ilmu ini terutama bagi masyarakat Indonesia, dan kitab ini di Indonesia dicetak di pinggir kitab tafsir Al-Jalalain.

Disamping kitab-kitab tersebut di atas, masih banyak kitab-kitab yang lain, tetapi tidak ditulis dalam satu kitab tersendiri, melainkan masuk dalam kitab-kitab yang membahas tentang studi Al-Qur’an atau tafsir. Diantara kitab-kitab tersebut adalah:

1- Al-Burhan Fi ‘Ulumil-Qur’an buah karya Imam Badruddin Muhammad bin Abdillah Az-zarkasyi (W 794 H).

2- Al-Itqon Fi ‘Ulumil-Qur’an anggitan Imam As-Suyuthiy (W 911 H).

3- Zadul-Masir Fi ‘Ilmit-Tafsir buah pena Imam Abul-Faraj Jamaluddin Abdurrahman bin ‘Ali bin Jauzi (W 597 H).

4- Al-Jami’ Li Ahkamil-Qur’an atau biasa disebut dengan Tafsir Al-Qurthubi karangan Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Faraj Al-Qurthubi ( W 671 H).

5- Tafsirul-Qur’an Al-‘Adzim karya Al-Imam Al-Hafidz Abul-Fida’ ‘Imaduddin Isma’il bin Katsir (W 774 H) yang terkenal dengan nama Tafsir Ibnu Katsir.

6- Ruhul-Ma’ani anggitan Imam Syihabuddin Al-‘Alusi (W 1270 H).

METODE MENGETAHUI SABABUN-NUZUL

Mengetahui “Asbabun-Nuzul’ termasuk dalam kategori sesuatu yang tidak menerima ijtihad, karena sababun-nuzul berupa kejadian nyata yang sudah terjadi pada masa Nabi Muhammad saw yang berkenaan dengan turunnya ayat Al-Qur’an.

Para ‘Ulama telah menetapkan bahwa cara mengetahui Asbab An-Nuzul itu hanya dengan satu cara, yaitu dengan periwayatan yang benar (arab: صحيح) dari para sahabat Nabi r.a karena merekalah yang menyaksikan dan mengalami kejadian yang menjadi sabab an-nuzul serta mendengar sendiri dari Rasulullah saw.

Oleh karena itu, dalam “Asbabun-Nuzul” tidak ada ruang gerak bagi akal kecuali dalam hal memilih riwayat yang paling kuat (arab: الترجيح) dan menyimpulkan (arab: الجمع) dari berbagai riwayat yang dhohirnya bertentangan.

Imam Al-Wahidiy berkata: “tidak boleh berkata tentang Asbabun-Nuzul kecuali dengan riwayat dan mendengar sendiri dari orang yang menyaksikan peristiwa penurunan ayat Al-Qur’an”.

Jadi, yang muktamad dalam mengetahui Asbabun-Nuzul adalah apa yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi r.a secara jelas bahwa kejadian tersebut adalah sababun-nuzul.

Adapun perkataan para tabi’in, Imam As-Suyuthiy berpendapat bahwa perkataan tabi’i apabila jelas berkenaan dengan Asbabun-Nuzul maka diterima walaupun mursal – sahabat tidak disebutkan – dengan syarat sanadnya shahih dan tabi’I tersebut termasuk imam dalam bidang tafsir yang belajar dan mengambil ilmu dari para sahabat r.a seperti Imam Mujahid, ‘Ikrimah dan Sa’id bin Jubair. Dan disaratkan pula riwayat mursal tersebut dikuatkan dengan riwayat mursal yang lain.

MANFAAT MENGETAHUI “ASBABUN-NUZUL”

Pembahasan tentang Asbabun-Nuzul termasuk pembahasan yang amat penting dalam Studi Islam, terutama Studi Al-Qur’an dan Tafsir. Imam Al-Wahidiy mengatakan bahwa tidak mungkin mengetahui tafsir ayat tanpa memperhatikan dan mengetahui kisah penurunannya – sababun-nuzul -.

Layaknya sesuatu yang penting, Asbabun-Nuzul tentu tidak kosong makna dan manfaat. Diantara manfat-manfaatnya adalah:

1- Menjelaskan hikmah yang terkandung dalam pensyariatan suatu hukum, dan mengetahui pengayoman syariat terhadap kemaslahatan umum dalam memberikan solusi bagi peristiwa-peristiwa yang terjadi. Pengayoman terhadap kemaslahatan ini sebagai bentuk rahmat Allah SWT terhadap hamba-Nya.

2- Mengkhususkan hukum (arab: تخصيص الحكم ) dengan sababun-nuzul – kejadian yang menjadi sababun-nuzul – menurut orang yang berpendapat bahwa “yang menjadi pegangan adalah kekhususan sebab bukan keumuman lafadz / kata” (arab: العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ).

3- Membantu dalam memahami arti ayat Al-Qur’an dan menghilangkan kemusykilan. Tanpa mengetahui sababun-nuzul dikhawatirkan seorang mufassir akan keliru dalam memahami arti ayat.

Ibnu Daqiqil-‘Id berkata: “mengetahui sababun-nuzul merupakan cara yang kuat dalam memahami arti Al-Qur’an”.

4- Mengatahui nama orang yang berkaitan dengan penurunan ayat Al-Qur’an, maksudnya ayat Al-Qur’an diturunkan terkadang berkaitan dengan peristiwa yang dialami seseorang, dan sababun-nuzul membantu dalam mengetahui nama orang tersebut.

5- Lafadz / kata terkadang umum dan terdapat dalil yang mengkhususkannya, apabila sebab penurunannya diketahui, maka pengkhususan hanya terjadi bagi selain gambaran sebab tersebut, karena memasukan gambaran sebab itu bersifat pasti sedangkan mengeluarkannya dengan ijtihad tidak boleh karena ijtihad bersifat dugaan. Ini adalah pendapat mayoritas ‘Ulama.

EPILOG

Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal:

- Asbabun-Nuzul merupakan bagian terpenting dalam Studi Al-Qur’an dan tafsir.

- Tidak semua ayat Al-Qur’an mempunyai sababun-nuzul, karena ada ayat Al-Qur’an diturunkan tanpa sebab yang mendahuluinya atau yang biasa disebut sebagai “Ibtidai”.

- Peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum atau sesudah masa Nabi Muhammad saw – yang penting bukan pada masa beliau – tidak dinamakan Asbabun-Nuzul.

- Asbabun-Nuzul dapat diketahui hanya dengan riwayat yang shahih dari para sahabat dengan redaksi yang jelas (arab: صريح) atau riwayat yang shahih dari para tabi’in menurut sebagian ‘Ulama dengan syarat tertentu yang telah disebutkan sebelumnya.

Akhirnya, segala kesalahan mohon dimaafkan, dan semoga tulisan ini menjadi amal jariyah. Amiiiin.

وبالله التوفيق

Daftar Pustaka

1- As-Suyuthiy, Jalaluddin Abdurrahman, Al-Itqon Fi ‘Ulumil-Qur’an, Kairo: Darul-Hadits, 2004.

2- Qamhawiy, Muhammad Shadiq, Al-Ijaz Wal-Bayan Fi ‘Ulumil-Qur’an, Alexandria: Darul-‘Aqidah, 2006.

3- Jibril, Muhammad Sayyid, Asbabun-Nuzul, dalam Al-Mausu’ah Al-Qur’aniyah Al-Mutakhashishah, Kairo: Al-Majlis Al-A’la lis-Syuun Al-Islamiyah, 2006.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s